Ceritanya, Jadi Pembicara Webinar Nasional

 Ahad, 20 Juni 2021

Waktu menunjukan pukul 19 lewat 27 menit . Waktu Indonesia Bagian Piket.
Saya masih rebah-rebahan setelah mimpin anak-anak shalat Magrib berjamaah. Dan, harus pindah ke kamar karena hujan. Sehingga tempias dan gak bisa ngaji di Aula.
Tetiba Kanda Lalu Gede Pharma menelpon. namun tak terangkat. Tapi, dia kirim WA. Mengingatkan saya bahwa waktu untuk Webinar sudah tiba. DEngan saya menjadi salah satu pemantik.
Pembicara lain adalah DR (cand.) Kusdini. Tuan Guru Mulia Cuup Wibowo, Wing Sentot.
Penyelenggaranya Forum Alumni Universitas Mataram (FAUM)
Dibuka oleh moderator Sani Arafat, senior di Pelajar Islam Indonesia (PII)
Dihantarkan oleh Moh. Syafik Khan, Presidium FAUM
Diawali oleh DR Dini yang memaparkan problematia konstitusi atas air. Tumpng tindih dan begubednya perundang-undangan soal air. Sehingga menciptaan kekusutan di mana-mana.
Giliran saya.
Saya sampaikan betapa Bekasi hari ini tengah menikmati tuaian akibat Pembangunan yang Tidak PRo ekologi. Sehingga hampir setiaptahun terjadi Bencana Ekologis, Banjir di musim hujan.
Kekeringan di musim kemarau.
Ini akibat konversi lahan. Besar-besaran. Dari tahun 1980-an sampe wayah gini. Ribuan hektar sawah dihempaskan. DIganti perumahan dan Industri. Ribuan hektar rawa ditindih beton dan bangunan.
Tata Ruang yang tidak dikelola dengan baik ini akhirnya menimbulkan bencana ekologis. Banjir langganan. Musim Kemarau, kekeringan.
Kali-kali di Bekasi menghitam.
Tanah tercemar.
Udara terisi polutan berbahaya.
Pada titik inilah kemudian perlawanan saya l;akukan dengan mendirikan sekolah alam. Yang diikhtiarkan untuk menginstal KEcerdasan Ekologis di kalangan anak-anak. Sedini mungkin. Sekolah Alam Prasasti.
Berharap karakter yang muncul merupakan karakter yang pro konservasi alam dan lingkungan.
Dan, ketika mereka memegang amanah atau otoritas. Bia mengimplementasikan pembangunan yang pro konservasi alam dan lingkungan.
DI Kesempatan kedua juga saya sampaikan.
Betapa leluhur kita sudah sangat hebat. Mengajarkan tradisi sumur untuk kebutuhan air.
Sumur itu lubang sekitar 1-1,2 meter. Kedalaman variatif. Antara 3-12 meter.
Kalau hujan. Sumur bisa menjadi penampung air hujan.
Musim kemarau, sumur bisa tetap menyediakan air.
Kini di perumahan kan gak begitu.
Sumur yang ada sumur pantek. Lebarnya hanya kurleb 10 cm.
jetpum. Sanyo.
Usai saya bicara. Bergantian pembicara lain bicara.
Wah,,,sebuah kehornatan besar saya jadi pembicara di Agenda FAUM.
#Sekolah Alam Prasasti
Ida Herlina R, Ken Arca Alexander dan 17 lainnya
2 Komentar


Komentar