SAH! Kong Guntur Elmogas Ketua Dewan Kebudayaan Bekasi

 


Kampung Kali Piket, 23 Mei 2021. Tepat sepuluh hari setelah Lebaran 1 Syawal 1442 H. Mentari cerah menerangi Sekolah Alam Prasasti. Dipayungi pohon mangga dan pohon seri. Adem. Sejuk. Angin menyapa semua yang hadir siang itu.

Pukul 09.45, Pak Suryadi. Ia kerap dipanggil Bang Pitung. Sudah datang. Bersama gembolan seplastik semangka Inul. Manis. Top! Sebenernya acaranya siang. Cuman aja salahlihat jam. Jadi datang lebih pagi. 


Untunglah ada Bang Coki. Panggilan ngetop untuk Hasanudin. Segudang jabatan saat ini dipegang . Kabarnya, sekarang sudah bekerja di Kantor Kecamatan Babelan.


Ngobrol ngalor ngidul ngobrol bertiga. Gak berasa Dhuhur tiba. Shalat Dhuhur berjamaah bersama Santri Lumbung Tahfidz Sekolah Alam Prasasti. 



Ba’da Dhuhur, baru berdatangan Kong Guntur Elmogas, si Raja Pantun pemegang Rekor MURI. Ki Majayus Irwan, Budayawan dari Kota Bekasi. Kang Akromusyuhada. Ia kandidat doctor. Kang Aom, begitu saya memanggilnya, seorang dosen. Akademisi.  Bang Endra Kusnawan, penulis buku Sejarah Bekasi. Kang Wito, Ketua Umum Cakra Buana Nusantara (CBN). Ryan Hamzah, Presiden Penyair Bekasi. Yang datang dengan syal Bendera Palestina. Kong Bisot, Selebritis Facebook. Kiai Cungkring (Nur Salim). Seorang penceramah yang mulai naik daun. Terakhir datang rombongan Pemuda Pancasila Desa Sukaringin. Dipimpin Bang Ramin Sanjaya. BErsama Bang Rajab dan haji Agus. 


Kesemuanya neba di Sekolah Alam Prasasti hadir dalam acara Halal Bi halal Jaringan Kampung Bekasi (JKB).

Agenda dibuka dengan makan siang. Pepes ikan Emas, Oncom goreng, Sekupang, Sayur Asem. Wih, seru! Semuanya terlihat menikmati makan siang yang ala kadarnya orang kampung. Alhamdulillah….bahagia rasanya bila bisa menyenangkan para tamu.

Minumnya kopi, air mineral dan es sirop marjan.

Usai makan siang, terjadilah diskusi panjang, mendalam dan mendebarkan. Greget. Ngegemesin. 

Hampir semua yang hadir prihatin dengan geliat pergerakan Kebudayaan Daerah Kab Bekasi. “Ketinggalan selangkah. Eh, berpuluh-puluh langkah Kab Bekasi itu dari Kota Bekasi,” ujar Endra Kusnawan. 

Di Level Provinsi, menurut Ki Maja, Ia selalu ditanya kemana Budayawan Kab Bekasi. Di forum-forum Provinsi dan Pusat, Kab Bekasi selalu absen. “Iya. Saya selalu ditanya mana Kabupaten Bekasi?” kata Ki Maja. Pria kurus yang berkarya besar. Ia produser film dan menggagas kelurahan Budaya Jatirangga, Kampung Kranggan. Kota Bekasi.

Apalagi saat ini. Kabupaten di Bekasi dituntut untuk menginventarisasi Pokok-pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD). “ Kota Bekasi mah sudah dibentuk tahun 2018,” katanya. 

Yang ironis, sejumlah agenda Kebudayaan Kab Bekasi malah konsutannya dari Bandung. Uhuy!

Mengerucutlah diskusi pada satu titik.  Sadar akan fakta-fakta di lapangan bagaimana Kebudayaan di Kabupaten Bekasi menunjukan degradasi dari masa ke masa seiring dengan perkembangan pembangunan. Kebudayaan local perlahan namun pasti menunjukan siklus penurunan drastic. Maka yang hadir sepakat untuk membentuk DEWAN KEBUDAYAAN DAERAH KABUPATEN BEKASI dengan Kong Guntur Elmogas yang didapuk sebagai Ketua Umum. Dan, Sekjen Komarudin Ibnu Mikam. 

Setelah terbentuk. Agenda selanjutnya menemui para pemegang kebijakan. Lihat respon mereka. “Kalo romanah lampu ijo, jalan. Lampu kuning, kita fifty-fifty. Kalo Lampu merah, Pulanng!” kata Komar. 

Artinya, bahwa Agenda ini melihat respon pemangku kebijakan. Kalau dirasa-rasa tak direspon. Pulang. Kalau direspon baru maju terus. 

Kong Guntur juga sempat cerita. Betapa penggiat Kebudayaan di DKI Jakarta nasibnya indah bangat.

 Dalam setiap kebijakan, Budayawan diikut sertakan urun rembug. Karena Budaya dan Kearifan Lokal esensinya adalah merekatkan, menertibkan, penghormatan dan kehalusan budi. Maka merasuknya jiwa Kebudayaan dalam produk-produk perundang-undangan meniscayakan karakter pembangunan yang pro lingkungan dan mensejahterakkan masyarakat tempatan. 

Acara ditutup dengan pembacaan puisi Prasasti untuk Palestina. Oleh Kang Ryan Hamzah. Yang Hari ini dinobatkan sebagai Presiden Penyair Bekasi. Sebuah penghargaan atas dedikasi dan pengabdiannya untuk perkembangan sastra di Bekasi. [kim]

Komentar