Gagasan Ocean School untuk Sekolah Alam Prasasti

 Senin, 24 Mei 2021. Pukul 20.00-21.30 wib

Via Jaringan Sekolah Alam Nusantara (JSAN) saya bisa mengikuti webinar Ocean School. Sebuah agenda luar biasa yang memantik kesadaran akan pentingnya pelestarian keragaman hayati (biodiversity) demi kelangsungan masa depan.
Sesi pertama, dipresentasikan Sekolah Citra Alam yang helat agenda Ekplorasi Laut. Sejumlah siswa citra Alam melakukan penelitian dan hidup langsung bersama masyarakat laut. Siswa-siswa juga mencreate agenda kampanye penyelamatan laut. Melalui barang-barang bekas yang ditemukan di laut.
Kemudian sesi berlanjut dengan membagi peserta seminar ke tiga room berbeda. Untuk berdiskusi tentang tema Äpa yang bisa dipelajari dari Laut. Di sini peserta seminar menyampaikan poin-poin penting untuk dijadikan bahan pembelajaran ke anak-anak.
Usai diskusi di room.
kembali presentasi ke room utama.
Setiap room menyampaikan poin-poin penting yang dibahas.
Diskusi lanjut lagi dengan menonton video. Tentang biodersity di Raja Ampat, Papua. Digambarkan bagaimana alam melakukan perannya masing-masing untuk berevolusi. sartu sama lain saling terkait. Seperti manusia. Ibu rumah tangga-beli ke tukang sayur-kalo sakit ke dokter-mau belajar ke sekolah ketemu guru. Begitu seterusnya. Masing-masing berperan. Masing-masing saling membutuhkan.
Di sini menohok. Orang Bekasi sama sekali gak punya memory tentang Paradigma laut. Mindset soal laut. garis pantai sepanjang 61 km. kira-kira. Kagak kepikiran menjadi sesuatu yang menghasilkan sesuatu/ Baik materi dan lainnya.
Saya jadi inget perkataan Lurah Darman. Kalau Pemkab Bekasi mau mengentaskan pengangguran. Jangan bangun pabrik. Modalin saya saja bikin kapal yang gede buat nangkep ikan. Laut bisa jadi solusi.
Selama ini gak kepikiran. Memanfaatkan laut tanpa harus merusak. yang ada mah bikin kawasan industri di tengah. terus limbahnya ke laut. Ini yang bikin petambak di Utara Bekasi menjerit.
Apalagi sekarang dengan konsep pelabuhan. Menghancurkan wilayah hutan mangrove untuk salah satu bumn . Atau, membangun pelabuhan.
Kembali ke diskusi.
Peserta di sesi terakhir diajak nonton video. bagaimana wanita-wanita di Raja AMpat melakukan patroli laut.
Buat saya ini ga asing. Sebab Kearifan lokal masing-masing wilayah selalu menjaga lingkungan. Bukannya mengubah garis pantai menjadi pelabuhan.
Dan diskusi ini ditutup.
Dengan sekarung gagasan untuk dipraktekan.
Bisot, Eko Djatmiko dan 8 lainnya
6 Komentar
Suka
Komentari
Bagikan

Komentar