SEKOLAH ALAM PRASASTI BEKASI : Kisah Janda Kembang yang Berhijrah

 Piket, 17 Juli 2017. Di jalanan becek. Berlumpur. Seorang wanita muda menatap Bendera Tiang Bendera dengan syahdu. Matanya berkaca-kaca. Mulutnya terkatup. Sejuta rasa mengelana.

Ya. Hari itu diawali sebuah proses pembelajaran. Sekolah Alam Prasasti. Berlokasi di Kampung Piket Desa SukaTenang Kec Sukawangi kab Bekasi. Ada 24 siswa TK, 5 SD, 15 SMP, 3 SMK yang hadir dan mengikuti Upacara Bendera.
Wanita muda itu Ketua Yayasan Bangun Peradaban Mulia. Mariyah Ulfah namanya. Anak-anak memanggilnya Bunda MU. Usia 30 tahun. Berparas manis tanpa gula. Walau tak terlalu tinggi. Mungil.
Entah bagaimana. Takdir Ilahi melemparkan nya hingga sampai pada titik ini. Berhijrah menjadi pengelola sekolah gratis untuk kaum termarjinalkan.
Ceritanya begini:
Selepas SMA, ia langsung dijodohkan. Menikah muda. Tanpa cinta. Tidak pacaran. Bahkan baru kenal pas saat mau dijodohkan. Mungkin karena itu, keluarga mudanya berantakan. Ia harus menjadi janda. JAMUR. Janda dibawah umur. Atau Jakem : Janda Kembang.

Status sebagai Janda buatnya agak dilema. Seakan apa saja yang dilakukan seorang janda itu salah. Apalagi dengan paras cantik. Banyak emak-emak yang nyinyir. Wabilkhusus sejumlah lelaki yang menjadi kawan.
Namun, semua itu dilewatinya dengan tabah. Sejauh tidak melanggar norma. Biar saja mereka berprasangka. Toh, kenyataan tidak ada apa-apa.
Sejumlah pekerjaan dilakoni. Demi menyambung hidup sendiri. Dan, menopang ekonomi keluarga orang tua. Kebetulan, selepas SMK sebelum menikah,  ia juga pernah jadi montir motor. Pekerjaan mulai ngambek ban, ganti oli dikerjain. Kemudian menjadi Salwa Promotion Girl (SPG) di Mall, pelayan di SPBU dan lain-lain. Diantara semua itu menjadi Guru TK dan bermimpi punya TK atau sekolahan sendiri. Itu paling berkesan.

Lompatan #ayohijrah pertama itu. Saat ia memberanikan diri ikut dalam Latihan Kader Organisasi Mahasiswa Islam. HMI (Himpunan Mahasiswa Islam).Rada langka janda ikut training HMI. Coba tanya para aktivis HMI. Jarang. Bodi yang mungil membuatnya terlihat masih kayak anak sekolahan. Berkah tersendiri. Sehingga gak banyak orang tahu. Dia janda.
Ikut training kader HMI itu menjadi tangga baginya melangkah. Jaringan organisasi ini sanggup mengkatrol karirnya. Dengan modal intelektual dan jaringan ini, ia bisa terpilih sebagai Panitia Pengawas Pemilu. Disingkat Panwas Kecamatan Setu.
Selain itu, HMI juga menjadi daya ungkit dalam melihat dunia. Cakrawala terbuka. Visi dan Misi Hidup tertata. Mimpi terangkai. Dengan Semangat Yakusa: Yakin Usaha Sampai. Mimpi yang terangkai pelan-pelan menemukan wujud.
MU kemudian juga aktif di Komunitas Budaya. Seiring dengan hobbynya menari Topeng. Pucuk dicinta Ulam tiba. Ia bertemu dengan laki-laki. Seorang Duda. Yang jatuh cinta mati pada pandangan pertama.
Momen itu terjadi di Gedung Juang Tambun. Usai menari di panggung Budaya. Ia beristirahat di Museum Bekasi. Menemukan buku menarik tentang Laskar Pelangi. Novel Best Seller karya Andrea Hirata.  Ternyata novel itu milik Komarudin Ibnu Mikam. Pegiat Budaya. Iapun meminjam buku itu.
.....Buku ini aku pinjam.....lirik Iwan Fals.
Momentum tak terlupakan . Angin malam berdesir pelan. Aura Gedung Juang berubah jadi romantis. Cinta bersemi.
Novel Laskar Pelangi wasilah saja dari terjalinya silaturahim dan cinta. Bercampur kangen dan rindu. Eh, ngelantur. Laksana Film Romantik Korea. Cinta terjalin. Berakhir ke pelaminan.

Momentum #ayohijrah kedua. Keberanian diambil. Melangkah kembali menikah. Trauma masa lalu dengan suami pertama coba ia tepis. Bertekad untuk lebih baik. Mungkin keberaniannya ini yang juga dilakukan Bank Muamalat, Bank Murni Pertama Syariah. Bank-bank yang ada sejak NKRI merdeka adalah Bank-bank Ribawi. Keberanian sebagai pelopor bukan sembarang keberanian. Mengawali. Pasti sangat berat. Namun, semangat #ayohijrah membakar segala keraguan.
Perilaku MU setelah menikah pun berbeda. Ia lebih memilih fesyen sesuai syar'i. Ia berhijab. Sesuatu yang dulu dilakukan kalau kondangan saja.
Bersama suami kedua, MU berdiskusi tentang fenomena banyaknya siswa yang tak sanggup mengenyam pendidikan. Oh iya, sebelumnya juga tentang banyaknya JAmur. Janda di bawah umur di wilayah Pesisir Kab Bekasi. Nah, kalau dirunut. Akar soalnya ada pada tingkat pendidikan orang tua yang rendah. Miskin materi berpelukan dengan miskin wawasan. Pentingnya sekolah sebagai persiapan anak di masa depan. Lingkaran setan yang harus diputus.
Dialah sang suami harus menjual aset berharganya berupa rumah satu-satunya. Karena itu harta gono-gini dengan istri pertamanya. Ketika dijual. Dibagi 4. Istri dan kedua anaknya. Otomatis, dana segitu tak mencukur untuk beli rumah di Kota. Pilihannya kemudian beli tanah di Kampung.
Momentum #ayohijrah pun kembali terulang. Mereka sepakat. Pindah ke kampung dan mendirikan sekolah. Tantangan selanjutnya muncul lagi. Dana nya cekak. Hanya untuk lahan. Dan rumah tinggal. Itupun rumah sebatas bertembok dan beratap. Yang penting bisa berlindung dari hujan dan panas. Tanpa plester. Tanpa cat.
Alhamdulillah. Puji syukur kehadirat Allah SWT. Banyak kawan mulia yang memback up. Pertolongan Allah.
Sekolah dengan dana terbatas. Tentu sulit diwujudkan bila menggunakan konsep konvensional. Maka, Konsep.Sekolah Alam pun dipilih. Ini bisa menekan biaya. Untuk kelas. Cukuplah dibuatkan saung-saung. Sebagai shelter untuk anak-anak naro peralatan belajar. Belajarnya bisa di bawah puhun sukun. Dipinggir kali atau di pematang sawah. Kebetulan lahannya 'mewah'. Maksudnya mepet sawah.  Berbatasan langsung dengan sawah. Pemandangan luar biasa. Setiap hari seperti liburan. Everyday ia Holiday. Jadilah SEKOLAH ALAM PRASASTI.
Setelah dua tahun. Kini berdiri TPQ, TAK, SD, SMP,SMK dan Pondok Pesantren. Gratis. Bahkan untuk beberapa yatim dan dhuafa disupport uang saku. Lima ribu per orang.
Dan, sang Janda Kembang itu kini sudah hijrah. Ke posisi yang bebas riba. Eh, bebas maksiat. Seperti Bank Muamalat yang mempelopori Bank Syariah. Kini, banyak bank yang sudah buka Bank Syariah.

Kali Piket, 25 April 2019



Keluarga Besar Sekolah Alam Prasasti sedang melakukan Study Tour ke Museum Transportasi TMII

Komentar

Posting Komentar